Pabrik sarjana jangan mengungkung kita

Tidak bisa dipungkiri banyak paradigma berkata bahwasanya mahasiswa zaman sekarang itu kuliah cuma buat jadi sarjana, cari kerja, lalu hidup sejahtera kemudian.

Beberapa tahun lalu mungkin masih ada yang bertanya, turun ke jalanan, dengan lantang berteriak, “Mahasiswa adalah tonggak pergerakan bangsa. Dari zaman “Indonesia” belum ada, generasi muda menjadi tokoh-tokoh penting yang tidak luput perannya dalam pergolakan bangsa ini. Jong Java, Jong Sumatera, dkk bersatu dalam sebuah sumpah, yaitu ‘Sumpah Pemuda’. Kemerdekaan Indonesia, Penurunan Soekarno, NKK/BKK, Malari, Penurunan Soeharto dsb, mana yg luput dari peranan generasi muda?”

Hahahahaha! Sekarang siapa yang berteriak lantang demikian mungkin saja dianggap orang gila. Saya hanya mencoba refleksi dari beberapa sharing dengan alumni-alumni kampus saya yang kini sudah bekerja dan mengabdi dimanapun mereka berada. “Zaman kami dulu, ngerjain tugas akhir tidak seperti kalian. Kami coba bikin algoritma baru, kami bikin mesin/alat baru, atau apapunlah yang memang butuh waktu bisa sampai 2 tahun, ahahaha! Menyenangkan sekali nampaknya zaman kami dulu.”

“Zaman kami dulu, mana ada cerita harus pulang dari kampus sebelum jam 10 malam?? MAKIN MALAM, MAKIN FOKUS!! Hahahaha!”

“Dulu kami di kampus tidak seperti kalian. Kalian sekarang susah jumpa orang ‘aneh’ di kampus. Lah, kami?? Tengah malam lewat gedung serba guna, bisa ada orang latihan drama, kupikir hantu tadinya.”

“Kami dulu, soal nilai susahnya minta ampun, tapi ilmu jangan ditanya. Nah, kalian?! Kebalikannya justru yang terjadi, nilai boleh tinggi, soal ilmu sori-sori aja ya dek.”

“Kami dulu…” bla-bla-bla

Banyaklah yang mungkin kawan-kawan juga bisa dengar dari cerita-cerita alumni kalau kawan-kawan mahasiswa/i ada acara temu kangen dan ngobrol-ngobrol sama mereka. Tapi, apakah bisa kita samakan tantangan setiap zaman?? Tentu tidak!

Lantas, apakah tantangan zaman yang berubah jadi alasan kita untuk lari dari realita sosial?

Tidak bisa dipungkiri bahwa waktu 6 tahun untuk berkuliah tergolong singkat. Dengan beban sekian ratus SKS, kita tempuh hingga selesai (kalau lancar) selama 4 tahun, lalu peroleh gelar sarjana, kemudian apa? Kebanyakan orang mencari kerja, coba peruntungan lewat buka usaha juga ada, atau mungkin sambung S2, dsb.

Lantas, apakah dengan waktu kuliah hingga jam 6 sore, dan ditambah waktu sholat, makan, dsb yang dibatasi dengan rapat dan kegiatan kemahasiswaan hanya boleh sampai jam 10 membatasi kreativitas kita? Apakah dengan kuliah yang hanya 6 tahun batas maksimal membatasi keinginan kita untuk aktif dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus? Apakah dengan banyaknya tuntutan dari tugas-tugas perkuliahan membuat kita lupakan dasar pembelajaran dan lebih orientasi-nilai? Apakah dengan batasan peraturan kaderisasi membuat kita kehilangan kader-kader organisasi yang baik?

Akh, sudahlah. Capek saya menambah pertanyaan. Toh, saya juga sedang belajar untuk lepas dari kungkungan ‘pabrik sarjana’ yang sering disebut dengan ‘kampus’ oleh sebagian besar ‘material’ di dalamnya. Semoga apapun yang terjadi sekarang, tidak ada yang jadi alasan bagi kita untuk tetap berada di jalur ‘aman’ pribadi. Egois kalau begitu. Rasa-rasanya, tepat memang “Di balik kekuatan yang besar tersimpan tanggung jawab yang besar.” Sebab memang, dari 400 juta rakyat Indonesia, berapa orang yang beruntung boleh mengecap status ‘mahasiswa’? Tidak sampai 1%nya, Saudara-saudara. *CMIIW

Tembok dan kungkungan memang selalu ada, lantas itu semua bukanlah suatu alasan untuk kita berdiam diri dan pasrah menjadi katak dalam tempurung dalam kehidupan pribadi kita.

Sekian curhat saya untuk saat ini, mungkin ke depannya akan saya lanjut lagi mengenai hal ini. 😀

Dipublikasi di kemahasiswaan, kritik, pendidikan | 4 Komentar

Pengantar untuk penutup babakan perkuliahan TI’07 ITB

Dengan asal dari berbagai macam daerah, berbagai macam motivasi, bertemulah kita semua disini, di satu babakan dalam buku kehidupan yang bukan karena kebetulan semata kita lalui bersama. Suatu babakan dengan judul “Teknik Industri ITB 2007” yang punya sudut pandang masing-masing dari 178 orang kita. Ada yang mengakhirinya dengan lebih cepat daripada yang lain karena pindah ke tempat lain untuk menimba ilmu ataupun alasan lain. Ada pula yang mengakhirinya sesuai dengan kurikulum TI ITB dan mendapatkan gelar “S.T” alias sarjana teknik sebagai embel-embel yang mengikuti nama.

Dimulai dari berbagai kisah perkenalan di masa TPB, bahkan sampai ada yang beberapa kali harus ‘berkenalan ulang’, haha. Konyol memang, tapi apalah daya, ingatan manusia memang bukan tanpa batas. Kelas-kelas yang dipenuhi oleh teman-teman TI’07 yang lainnya bersama dengan teman-teman dari jurusan lain di masa “Tahun Paling Bahagia” — meminjam istilah Loedroek di Maen Gedhe kemarin — dengan buku kalkulus, fisika, kimia, TTKI, dll bertebaran di atas meja ataupun di lantai-lantai kamar mendekati ujian. Dengan berbagai acara juga, seperti kumpul angkatan, buka puasa, bahkan sampai wisudaan.

Di kala itu, kita memang bukan MTI, tapi sudah berkontribusi, sedikit-banyak, dengan membuat balon air. Apalagi wisuda April, kalo meminjam kata-kata salah satu abang kita di MTI, “Gw iri ama yang wisuda April. Tahu gini, mending gw mundur dari wisuda Oktober kemaren ke April. Gila-gilaan ternyata arak-arakan kalian.” Gimana ga gila? Persiapannya aja luar biasa, bahkan sampai setiap orang punya peran aneh masing-masing.

Tidak lupa dengan acara seperti “Garage Sale for Charity” dan bakti sosial yang kita lakukan ke SMP Mutiara Insan (CMIIW) yang bahkan GSC kita sempat kehilangan ‘tempat pelaksanaan’ acara dan untunglah Tuhan memang Mahabaik kepada kita dan kita dapat lagi tempat nya di Taman Ganesha. Semua lancar dan luar biasa hingga kita menjadi MTI di bulan Juni akhir.

Di tingkat 2 yang kita jalani bersama sebagai anak MTI, berbagai acara yang kita sebagai panitianya, tidak jarang juga mendapat kendala. Tidak ada tempat mendadak, ada konflik dengan himpunan lainlah, atau apalagi. Ada-ada saja memang semua kejadian ini, tapi itu semua menjadi rajutan cerita yang mungkin dicetak tebal, digarisbawah dan dicetak miring dalam babakan kehidupan kita selama di ITB ini.

Lalu, dengan tugas yang dari dulu memang sudah tidak ada habisnya, di tingkat 3, sebagian besar dari kita mencicip apa yang namanya PTI, haha. Ternyata, kurikulum TI ini memang benar-benar ga ada matinya urusan beginian. Capek, jengkel dan berbagai rasa yang bercampur dahulu saat mengerjakannya. Kini, sebagai kenangan, ternyata itu semua bisa merekahkan sebuah senyuman di wajah kita masing-masing.

Di tahun ini pula, tiga teman kita beradu dengan timnya masing-masing menuju kursi ‘Kahim MTI’. Dengan keluarnya Anandhita Kasetra a.k.a. Aka atau Mamas, berjalan satu kepengurusan baru MTI yang dimotori oleh otak-otak 2007. Meskipun memang, hanya sebagian dari kita yang fokus disini, sebagian lagi fokus ke unit masing-masing, atau lab masing-masing, ataupun kerjaan masing-masing. Memang dibanding tingkat 2, di tingkat ini kita lebih memisah untuk belajar dan berkarya masing-masing. Tapi, masih dalam babakan buku kehidupan yang sama, kita tetaplah kita sebagai “Teknik Industri ITB 2007”.

Tingkat 4 ini, yang adalah tingkat akhir bagi sebagian besar dari kita (Amin!), ternyata ada lagi yang lebih-lebih dari PTI ini, tadinya dia ada 3 huruf, PLO. Berhubung berganti kurikulum, jadilah namanya PTLP. Apapun namanya, kawan yang satu ini ga kalah seru juga ama PTI. Belum lagi tugas-tugas lainnya, yang menambah keseruan perkuliahan kita di ITB. Untunglah, selesai semester 7, ada acara kulker yang menyenangkan. Meskipun, tidak semua bisa mengikutinya, tapi acara ini tetaplah menyenangkan. Dan, kalau benar buku kehidupan kita dituliskan, mungkin bisa satu chapter khusus tentang kulker ini bagi beberapa orang. 🙂

Tugas akhir, sesuatu yang sering disingkat ‘TA’, sering mengisi timeline twitter, ataupun home facebook, bahkan hingga blog-blog pribadi siapapun. Ada yang galau karena ga jelas juntrungannya, ada yang senang karena progressnya lancar, ada juga yang bingung sambil mengamati karena belum atau baru saja berencana memulainya.

Banyak kisah lain yang sepertinya kalau diceritakan, meski dari sudut pandang satu orang saja, tak akan selesai bahkan hingga jari-jari ini mulai kelelahan mengetik. Apalagi, kalau ke-178 sudut pandang tadi digabungkan. Ada mungkin yang ingat bagaimana saat MTI divakumkan dalam RA yang tidak kuorum-kuorum, canda-tawa di kelas, ada juga tentang asmara, dsb.

Penghujung babakan kehidupan yang satu ini seperti pula penghujung babakan kehidupan yang lain memang luar biasa. Tiba-tiba membangkitkan kembali segala kenangan dan perasaan yang telah dialami selama 4 tahun terakhir hanya dalam beberapa detik. Perasaan yang bercampur, tapi yang pasti ada maaf dan terimakasih untuk semuanya yang telah sudi untuk saling mengisi satu sama lain. Tidak sedikit kekesalan, juga tidak sedikit hal yang membuat hati risih, tapi sebanyak itu pulalah senyuman dan pembelajaran yang dialami. Hidup memang adil, bukan?!

Mengutip salah satu percakapan dari senior kita menjelang kelulusannya dengan salah satu dosen senior,  Alm. Hari Lubis :

Mahasiswa (M) : Bapak, bagaimana dengan nilai IPK saya ini ya? Sebentar lagi sudah mau lulus, tapi IPK saya masih begini-begini saja…

(alm) Dr. Ir. S.B. Hari Lubis (H): oh, kenapa kamu khawatir?

M : Ya khawatir Pak. Kalau melihat IPK kawan-kawan saya yang lain, rasanya saya minder banget.

H : XXX, saya kasih tahu. Banyak anak yang mendapat IPK bagus itu artinya mereka lulus dengan baik dari kurikulum TI ITB periode ini. Lulus dari kurikulum kehidupan itu belum tentu. Maka, apa yang kamu khawatirkan hanya dari sekedar nilai yang kamu dapat dari ITB ?

Untuk yang berhasil melalui kurikulum TI ITB ini dengan baik, marilah kita ucapkan, “Selamat kawan-kawan!” Bagi yang kurang sesuai, jangan pula berkecil hati. Kita diciptakan baik adanya, dengan talenta masing-masing. Pasti ada jalannya, entah kapan, entah dimana, kitapun akan bersinar. Hidup kita memang belum berakhir. Masih banyak halaman kosong dalam buku kehidupan kita yang menunggu untuk diisi oleh berbagai cerita luar biasa lainnya dari babakan kehidupan kita yang berikutnya.

Babakan kehidupan yang satu ini, “Teknik Industri ITB 2007”, sebentar lagi akan selesai memang. Kalaulah berjodoh, mungkin di babakan berikutnya, beberapa dari kita akan kembali bertemu untuk bersama merajut kisah, mungkin juga merajut kasih. :p Tapi, kalaupun tidak, semoga semua kenangan dan pembelajaran yang kita dapatkan di babakan ini bisa menjadi modal luar biasa bagi kita menghadapi masalah-masalah yang akan muncul di babakan buku kehidupan kita yang berikutnya. Minimal, dengan mengingat satu dua kejadian, senyuman bisa merekah di wajah meski saat susah dalam hidup kita nantinya.

Biarlah babakan ini ditutup, dan marilah kita buka babakan baru. Akhir kata, “Maaf dan terima kasih, kawan-kawan!” 🙂

Dipublikasi di about me, kemahasiswaan, kemahasiswaan ITB, pendidikan | Meninggalkan komentar

Forbas itu ternyata tradisi

Forbas itu..

Katanya sih singkatan dari ‘forum lapangan basket’ karena diadakannya di lapangan basket.

Ada juga yang sesekali bilang ‘forum bebas’, ‘forum bantai sesama’, apalagi ya? (saya selaku penulis juga kurang tahu selentingan lain yang merupakan singkatan populer forbas ini)

Dengan segala hormat kepada @detektif_kampus , saya mohon izin menggunakan twit yang dipos akun ini untuk sedikit banyak menjelaskan mengenai forbas yang saya juga kurang tahu.
Beberapa twit yang dipost oleh akun ini sedikit-banyak menjelaskan kepada kita tentang forbas itu sendiri. Saya juga tidak terlalu tahu kebenarannya, karena saya juga tidak terlalu banyak tahu mengenai hal ini. Semoga saja benar. Karena saya juga bingung bagaimana untuk bisa memverifikasi hal ini. Kalau ada pembaca yang tahu, silakan berbagi. 🙂

Saya pernah duduk di lapangan basket dan dikelilingi oleh massa kampus. Juli 2008, kalau saya tidak salah ingat. Waktu itu peserta forbas dari massa kampus tidaklah sebanyak yang hadir di forbas 2011 (yang baru saja berlangsung). Entah karena saya sekarang jadi peserta yang duduk di bangku penonton dan bukan lagi di lapangan, atau mungkin karena memang orang-orangnya sudah berganti semua (baik peserta maupun orang yang duduk di lapangan), tapi banyak hal yang terasa berbeda di forbas kali ini.

Ada dua hal yang saya cukup bingung melihat massa kampus ITB kali ini, yaitu :

1. Suasana antar massa kampus

Kalau dulu sih, massa kampus itu banyak sekali yang berbeda pendapat. Bahkan sampai ada himpunan yang keluar dari forbas karena tidak sesuai dengan beberapa prinsipnya. Dan, ada juga beberapa himpunan yang menyatakan diri tidak mengikuti OSKM ITB ini, tapi malah datang ke forbas tersebut.

2. Briefing antar massa kampus berjalan lancar.

Perkenalan, hal teknis, motivasi, dsb itu sudah dibeberkan ke punggawa-punggawa lembaga sebelum diadakannya forbas tadi. Dan, uniknya semua ikut dengan alur yang telah disediakan. Untuk ukuran orang-orang yang tingkahnya arogan dengan tingkat IQ yang diatas rata-rata, membangkang dan menjadi ‘angsa hitam’ ternyata bukan pilihan menarik lagi saat ini.

Keunikan dari dua hal yang kesannya ‘nakal’ ini lah yang nampaknya membuat forbas boleh dibilang perlu diadakan. Hitung-hitung sebagai momentum pemersatu antar lembaga agar si ‘gerbang utama’ penerimaan mahasiswa baru ini (PMB-INKM-PROKM yang dulunya dinamai OSKM)  dapat berjalan dengan baik dan mendapat dukungan penuh dari massa kampus.

Lah, tadi?? Kok adem ayem aja kesannya. Gregetnya itu menurut saya kurang. Bahkan, ada keluhan dari beberapa ‘orang dalam’ yang saya dengar katanya, “Kok kampus ga rame ya menyambut PROKM 2011 ini?”

Saya ga ngerti dimananya yang salah, atau memang saya yang salah berpikiran seperti ini. Namun, menurut saya, minimal untuk seru-seruan, forbas mah bukan pilihan yang tepat untuk sekarang dan ke depannya. Kita perlu cari cara lain. Apa itu? Saya juga ga tahu sih, haha. Yang saya sayangkan adalah bila forbas itu hanya sekedar tradisi yang keterusan. Semoga saja tidak!

Selamat malam! Semoga sehabis gelap, terbitlah terang 🙂

Dipublikasi di kaderisasi, kemahasiswaan ITB, kritik | Meninggalkan komentar

Sepenggal Rasa (Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?)

Aku dulu sering makan indomie bersama caUKSU07. Tiga tahun telah berlalu, aku pengen kali berkumpul lagi dengan kawan-kawanku UKSU07 di KBL jam 19.00. Harap disempatkan datang ya, untuk merayakan keberhasilan kawan-kawan kita yang sudah lebih dulu lulus walau tanpa indomie.

— Seorang jejaka Kelautan

Ntar malam jam 7 @ KBL aku dapat hadiah 104 bungkus indomie. Aku bingung giimana ngabisinnya. Lalu kusms kalian semua untuk bantuin ngabisin. Jadi datang ya ntar malam. Ada persembahan spesial tari indomie juga dariku. Ajakin temen-temen yang lain ya.

— Pemuda dari Teknik Industri

Semalam aku makan indomie di luar karena penat mikir TA dan pimnas. Pukul 24.00 kira-kira. Di sana aku bertemu seorang bapak tua yang bangga bercerita tentang anaknya di ITB. “Semoga kamu juga membanggakan orangtuamu,” katanya padaku. Sangat menginspirasi.

— Lelaki yang yang bergelut di bidang Elektro

Dari aku TPB dulu, hari-hariku di sunken selalu penuh warna. Gelak tawa teman-temanku, cerita suka-duka yang kami lalui bersama, tidak lupa indomie udin yang selalu menemani.  Sebentar lagi, mungkin hanya indomie temanku melalui hari-hari. Aku tidak peduli, aku akan datang dengan senyuman dan salaman penuh doa bagi para sahabat yang telah lebih dahulu berpisah jalan denganku.

— Pemuda lainnya dari Teknik Industri

*istilah yang dipergunakan :

  1. caUKSU07    : calon kader Unit Kesenian Sumatera Utara (UKSU) angkatan 2007
  2. KBL                : Kantin Barat Laut, kantin yang terletak di barat laut kampus ITB
  3. TA                  : Tugas Akhir, sering juga jadi topik yang mengisi twitter dan facebook rekan-rekan yang menjalaninya
  4. indomie udin : indomie yang dipesan dari warung udin. Udin adalah nama yang menjajakan.

Keempat alunan kata-kata yang tercantum di atas adalah isi dari SMS yang dikirimkan secara massal sebagai ajakan kepada teman-teman UKSU07 yang lain untuk menghadiri acara syukuran wisuda Juli 2011 UKSU ITB di KBL. Entah darimana asalnya, saya juga tidak begitu mengerti kenapa istilah “Ini ceritaku, mana ceritamu?” jadi sering kami pakai belakangan ini. Memang sudah jadi budaya di organisasi UKSU ITB untuk mengadakan syukuran wisuda setiap ada anggota organisasi ini yang diwisuda dari ITB.

Sebagai seorang mahasiswa 2007 ITB yang sekarang masih menyandang status mahasiswa, saya belum mengalami rasa yang dialami oleh teman-teman yang sebentar lagi akan mengalami prosesi wisuda secara resmi dari ITB. Berbeda dengan ke-23 teman saya yang semalam telah digelar perhelatan syukuran wisuda bagi mereka oleh UKSU ITB, saya masih duduk sebagai mahasiswa di acara semalam dan mungkin akan masih sebagai mahasiswa hingga setahun ke depan.

Tiga tahun lebih bukanlah waktu yang singkat. Apalagi, mengingat masa normal kuliah adalah 4 tahun, maka mayoritas waktu berkuliah, ya, dihabiskan dengan mereka-mereka ini. Suka-duka yang dilalui bila dirangkai dengan kata-kata, entah bisa berapa ratus bahkan ribuan halaman harus dikorbankan. Itupun kalau kata-kata saja cukup untuk mewakili sejuta rasa.

Dulu saat para abang dan kakak kami yang diwisuda, saya sedih. Jelas sedih, karena bagaimanapun mereka adalah panutan saya. Tempat saya dan teman-teman saya bergurulah boleh dibilang. Bagaimanapun, di suatu organisasi, kita pasti belajar dan berkarya. Kalau tidak, buat apa kita ada disana?

Semalam, bukan lagi orang yang mengajari saya yang diwisuda. Mereka yang diwisuda kali ini adalah rekan-rekan saya belajar bersama, berkarya bersama, melalui suka-duka bersama. Jelas, perpisahan ini bukanlah hal yang ringan untuk dipikul.

Masalah saya belum lulus karena belum selesai kuliah, masa bodohlah. Tapi, siapa nanti tempat saya berkeluh kesah saat ada masalah? Siapa nanti teman cerita saat saya sedang berbahagia dan emosi meluap-luap? Siapa rekan konsultasi yang selalu setia dan suportif? Siapa nanti yang siap memberikan pundaknya saat saya sedang butuh tempat untuk bersandar?

Semua pertanyaan ini pasti akan terjawab seiring waktu. Orang memang silih berganti dalam kehidupan kita. Tapi, rasa yang dialami sedikit-banyak pasti akan berbeda.

Memang iya kata orang, bahwa kita semakin menyadari sesuatu yang berharga di saat kehilangan. Dekapan hangat, erat dan panjang dari seorang sahabat menyiratkan sejuta makna meski tanpa kata yang mengalun. Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang yang bilang, “Awas kau lama lulus! Malas aku datang nanti.” Cara memotivasi yang unik, eh?! Air mata yang tumpah sambil terisak berkata, “Aku ini sedih. Kalian masih disini, aku sudah pergi sebentar lagi.”

Horas, Ahoy, Mejuah-juah, Njuah-njuah, Ya’ahowu kawan2 UKSU ITB yg wisuda Juli 2011! Slamat berjuang di jalanmu! Tuhan memberkati!

Dipublikasi di about me | 2 Komentar

Jadi senior ya jangan pelit-pelit atuh lah..

Semua orang yang baru masuk suatu komunitas ataupun organisasi yang sudah berdiri selama beberapa tahun pastilah menjumpai senior-senior di tempat seperti ini. Ada yang baik, ada yang galak, ada yang cakep ada yang jelek, hehe. Macem-macemlah pokoknya tanggapan kita terhadap senior kita masing-masing.

Kenapa dibilang senior? Berdasarkan http://kamusbahasaindonesia.org/senior yang saya akses beberapa saat sebelum merilis tulisan ini.

se.ni.or
[a] (1) lebih tinggi dl pangkat dan jabatan kedinasan (pegawai, karyawan, dsb): seorang diplomat — diangkat menjadi duta besar; (2) lebih matang dl pengalaman dan kemampuan; (3) berada dl tingkat sarjana bagi mahasiswa dan kelas terakhir bagi pelajar SMU dan SLTP; (4) lebih tua dl usia bagi dua orang (ayah dan anak) yg sama namanya (nama famili)

Kita ambil defenisi yang ke-2 dari 4 alternatif defenisi senior di atas. Jadi, sudut pandang kita bersama sudah sama sekarang memandang kata ‘senior’ dalam tulisan ini ke depannya.

Saya sedikit banyak kesal dengan beberapa keadaan yang saya lihat belakangan ini. Kenapa banyak sekali generasi yang dibawahnya terkesan ditinggalkan? Saya berkata seperti ini bukan tanpa dasar, meskipun semua ini hanya dari indikasi yang saya lihat dari kacamata saya dan bukanlah sesuatu hal yang saya dapatkan dari berbagai proses ilmiah yang melibatkan uji hipotesis, uji statistik, pengambilan data, bla-bla-bla. Ya, hanya sekedar pandangan dari keterbatasan saya dalam melihat.

Kalau dalam kaderisasi, idealnya, menurut saya “Senior itu tidaklah selalu benar. Dan, seorang junior yang baik haruslah menjadi senior yang lebih baik dari seniornya.” Tapi, kenyataan yang saya lihat tidak demikian (minimal di kampus saya). Kalau saya bandingkan, saat dulu saya berbicara dengan senior mereka, dengan sekarang saya berbicara dengan mereka, saya merasakan hal yang berbeda. Seakan-akan mereka tidak lebih baik dari seniornya, ya, itulah yang saya rasakan.

Ini mungkin hanya indikasi yang saya tangkap. Kalau Saudara tidak sepakat, Saudara silakan berhenti baca tulisan ini, dan layangkan kritik terhadap saya. Memang yang terlihat oleh saya hanya terbatas, namun bukan di satu atau dua organisasi saja saya merasakan hal ini. Saya lihat di beberapa, bahkan mayoritas. Kenapa ini bisa terjadi? Ini yang saya ingin untuk lebih dibahas.

Kalau kaderisasi gagal, berarti permasalahan tinggal dicari akarnya dari mana, apakah dari si pengkader (senior dalam hal ini), kader (si junior) atau prosesnya yang gagal. Kalau proses yang gagal, mungkin karena prosesnya tidak berjalan sesuai rencana, atau ada beberapa halangan dari lingkungan yang mengakibatkan demikian. Kalau dari sisi kader, saya pikir, berarti kadernya yang kurang inisiatif belajar, atau malah tidak ada niatan sama sekali. Kalau dari sisi pengkader atau senior berarti ada yang salah dari isi kepala si senior. Apakah dia takut juniornya lebih hebat dari dia dan berpotensi mengakibatkan dia kehilangan kejemawaannya? Atau, dia enggan berupaya dalam mengajari juniornya? Karena memang butuh usaha, sedikit-banyak, dalam hal mengajari orang lain. Hal yang terakhir ini lah yang paling ingin saya bahas dalam tulisan ini.

Dalam menjalankan sesuatu hal yang merupakan tanggung jawab para junior, seringkali suara senior yang ikutan nimbrung disana cenderung lebih didengar. Karena orang percaya pada pengetahuan dan pengalaman mereka. Dalam melakukan satu dua hal, kalau ada senior yang merasa kurang sepakat atau memberikan kritik, sering hal itu jadi pertimbangan untuk mengkaji ulang, bila dirasa logis dan benar adanya. Tapi, apakah peran senior (kalau boleh dibilang sebagai ‘penjaga nilai’) masih terasa?

Kalau junior-juniornya ada kesalahan konsep dari awal, lalu masuk tahap eksekusi sampai selesai, setelah itu senior datang di laporan pertanggung jawaban (biasa disingkat LPJ) dengan marah-marah, boleh kita bilang senior sebagai penjaga nilai dalam kasus ini? Boleh-boleh saja sih, saya pikir. Tapi, kalau ditanya balik, apakah sedari awal, terutama saat proses berlangsung, apakah ada si ‘penjaga nilai’ ini mendampingi, memberi arahan dan pertimbangan, dan lain sebagainya? Kadang, memang kita senior kurang ‘bercermin’.

Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh senior selayaknya diberikan agar para junior dapat menjadi kader organisasi yang mengerti nilai-nilai dasar organisasi dan siap mengembangkan organisasi melalui karya-karya mereka. Kadang ada rasa malas dan enggan dari pihak senior yang saya tangkap dari beberapa realita yang terjadi di sekitar saya. Para senior ini lebih memilih untuk berkarya disana-sini, lalu mendapatkan hal-hal baik bagi dirinya hingga melupakan tanggung jawabnya dalam mendidik juniornya. Padahal, sudah selayaknya saya pikir, lewat pengetahuan dan pengalaman yang didapat di suatu organisasi, setidaknya ada suatu tindakan semacam ‘balas jasa’ ke organisasi dengan memastikan orang-orang yang akan menggantikan dirimu untuk memegang organisasi tersebut minimal sehebat dirimu.

Kalau orang-orang cuma tahu melanjut dan mengulang progam kerja yang dulu kau buat tanpa tahu apa esensi dan nilai luhur yang diusung sebenarnya, saya ucapkan “Selamat! Saudara berhasil mencetak EO yang kreatif.” Apakah dengan acara lebih megah, lebih mahal, serta lebih banyak kreasi unik dari sebelumnya pasti lebih baik dari acara yang sebelumnya?

Memang sulit mengajari orang (saya pikir sih begitu). Karena sulit itulah, banyak mazhab dalam pendidikan, itulah kenapa kurikulum sering bergonta-ganti. Tapi, asal ada niat, saya pikir metode tidak akan terlalu mengikat. Dengan diskusi, berbagi buku, atau cara apapun yang bisa dilakukan, semua nilai yang Saudara miliki pasti bisa ditransfer ke para junior Saudara. Dan, untuk hal itu, minimal mereka bisa jadi sama baiknya dengan Saudara.

Kalau ingin organisasimu lebih baik, yah, setidaknya, pastikan dulu junior-juniormu lebih baik darimu!

Salam damai. 🙂

Saya hanya orang yang kebetulan sedang kecewa sama beberapa tingkah senior yang kurang dalam hal mendidik para juniornya

Dipublikasi di kaderisasi, kemahasiswaan, kritik, organisasi | Meninggalkan komentar

Mimpi Buruk tentang Pembangunan Gedung DPR yang baru

Saya ntah kenapa tiba-tiba bisa kebawa mimpi nih tentang isu ini.

-___-

Saya juga bingung.

Isinya pembicaraan antara DPR dan engineer yang bakal ngebangun gedung ini.

DPR : “Eh, gimana nih pembangunannya? Uda kebayang belum, Pak?”

Eng. : “Udah kok, biayanya sekitar 600an M, pak!”

DPR : “Oh, bagus-bagus. Bisa ga dinaikin aja jadi dua kali lipat gitu. Jadi 1,2 T. Ntar kita bagi-bagi deh.”

Eng. : “!@#$%^&*()”

DPR : “Yaelah, kayak kagak ngerti aja lo, sob! 😀 Anak istri juga butuh makan nih”

(Butuh makan aja 600an M yaaa, wow!)

Eng. : “Bolehlah, Pak! Asal bagi-baginya fair aja, hhe”

DPR : “Pasti dong itu.”

Eng. : “Okedeh”

(DPR sibuk kopi darat ama sohib-sohibnya sesama DPR. Dan, bla-bla-bla)

DPR : “Masyarakat uda ga usah urus tentang gedung ini. Ini urusan DPR. Demi kebaikan negara, bla-bla-bla. Kita butuh gedung senilai hampir 1,2 T ini”

Dan, kemudian… Masyarakat ga ngerti mau gimana. DPR2an ini pun kenyang hingga senang. Lalu, gimana dengan biaya pendidikan? Gimana dengan kebutuhan untuk pemotongan subsidi BBM agar anggarannya dialokasikan ke sektor lain? Dan, bla-bla-bla yang lain?

Ini memang cuma sekedar mimpi saya. Semoga bukan inilah yang terjadi.

Ohya, semoga para engineer pun sadar tanggung jawab nya. Emang semua orang butuh makan.. Tapi, emangnya miliaran itu buat makan ya?

Di kantin kampus saya, 10rb itu sekali makan–> ini kategori ‘agak’ mahal malah..

Kalo 600 M itu gimana yaa? 😀

Ah, sudahlah, itu cuma mimpi juga kok. Maaf, jadi curhat gini…

🙂

Dipublikasi di kritik, pemerintahan | Meninggalkan komentar

“Hanya Sebuah Lukisan” sampai…

Apakah kawan-kawan pernah baca locomostrip.com? Saya sendiri pembaca baru, hhaha. Baru dari awal maret saya baca, soalnya direkomendasikan oleh seorang teman lewat twitter. (Luar biasa memang situs jejaring sosial ini, bukan?!)

Ada satu dari 200-an karyanya (setidaknya masih 200-an sampai pada saat tulisan ini dipublish) yang menggelitik saya pribadi. Yaitu, karya ke-22 dengan judul “Just A Painting”

Dulu saya pernah dilukis sewaktu saya masih jaman-jaman ospek. Saya dan kawan-kawan ada bikin acara ‘garage sale for charity’. Di acara ini, kita juga sediakan stand karikatur. Jadi, siapa yang mau dibuatkan gambar karikaturnya, silakan saja. Asal, dibayar sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh panitia, tentunya.

Saya juga minta dilukis di sini. Nah, saat Ryuta (nama sang pelukis) bertanya kepada saya ingin dilukis seperti apa. Spontan saya menjawab, ” Gambarnya kayak orang lagi baca buku, Mas!” Haha! 😀 Konyol memang, karena disini dan masih sampe sekarang, saya malas sekali belajar di kuliah. Dan, ketika ditanya ttg bukunya ada deskripsi khusus atau tidak, saya dengan santai menjawab “Kalkulus”. Dan, inilah hasilnya…

Saya memilih kalkulus punya alasan tersendiri. Soalnya, saya itu baru dapat E untuk nilai kalkulus 2. Padahal, di semester sebelumnya, saya dapat nilai D untuk kalkulus 1 (masi boleh lulus nih, hhehe) Karena bakal ngulang di semester berikutnya, saya berencana untuk bisa berubah. Minimal dapat B lah rencananya untuk kalkulus 2 yang saya ambil. Dan, karena di jurusan saya kuliah ada sampai kalkulus 3, saya berencana juga agar nilai kalkulus 3 saya harus baik. Ternyata, setelah mengulang kalkulus 2 dan mengambil kalkulus 3, hanya inilah yang saya dapat..

Akhirnya, tujuan saya hanya ‘yang penting lulus lah..’

Hahaha! Ternyata, gambar itu masih sekedar gambar. Entah kapan saya bisa berubah. Bahkan, sampai semester lalu, kuliah saya masih begitu-begitu saja, pas-pas makan lah.

Namun, saya tertarik dengan nomor 22 – ‘just a painting’ ini. Saya sekarang umur 21. Semoga di bulan juni nanti, ketika saya genap 22, saya bisa menerima rapor dari semester yang sekarang sedang saya jalani dengan hasil lebih baik dari sebelumnya.

Semoga lukisan itu berhenti dari statusnya yang “Hanya Sebuah Lukisan”

Semoga.. 🙂

Dipublikasi di about me | 1 Komentar